Berwisata ke Jepang adalah pilihan liburan yang tepat. Kali ini, Travelegan ingin bercerita tentang salah satu kuil yang ada di Kyoto, yakni Fushimini Inari. Kuil ini cukup terkenal di Jepang. Tapi ingat ya, kalau ingin berkunjung ke “Kuil Dewa Padi” ini lebih baik sebelum matahari terbenam karena kamu akan merasakan suasana yang menyeramkan jika langit sudah gelap.
Dari stasiun Kyoto dalam 30 menit saya sudah tiba di stasiun Inari. Jam saya menunjukkan pukul 4 sore. Saya merapatkan jaket, suhu -2 derajat Celsius. Inari dipercaya sebagai jelmaan Dewa Padi di masanya sangat disanjung oleh pemeluk kepercayaan Shinto.
Dewa Padi dipercaya sebagai Dewa pemberi kemakmuran, kesuburan, kekayaan dan kesuksesan. Walhasil saat tahun baru tiba kuil ini akan dipadati pemeluk Shinto yang datang dari berbagai pelosok Jepang. Mereka berdoa, membawa persembahan dan mendonasikan replika torii.
Lokasi yang asri
Dari gerbang utama kuil terlihat asri. Ada dua gerbang di bagian depan, yaitu gerbang Romon dan torii. Romon adalah gerbang terdekat dengan kuil utama nan indah apalagi di malam hari. Sedangkan torii bentuknya sederhana, hanya terdiri dari dua buah kayu yang berdiri miring dan diakhiri dengan lengkungan di atasnya.
Di torii utama saya melihat keriuhan di bagian terdepan persis sebelumnya. Ternyata beberapa pengunjung sedang asyik berfoto di sebuah patung rubah, setelah berfoto mereka menundukkan kepala tanda hormat. Patung rubah itu dikenal dengan sebutan Kitsune. Ia adalah pelindung kuil dan dipercaya sebagai penyampai pesan kepada sang Dewa. Karena kepercayaan itulah banyak pemeluk Shinto yang berdoa dan dan membawa persembahan, biasanya berupa padi, sake dan gorengan.
Teman saya pun menyebutkan sesajen bisa membeli di warung-warung sekitar toko. Dari beberapa referensi Kitsune dikatakan memiliki kecerdasan yang super, memiliki kemampuan sihir yang sempurna, semakin tua kemampuan sihirnya meningkat.
Kitsune ternyata terbagi dua kelompok besar, yaitu kelompok Zenko yang baik hati yang memiliki sifat kedewaan dan kelompok rubah padang rumput yakni Yako, yang suka mempermainkan manusia bahkan bersifat jahat.
Di kuil Inari yang dipercaya adalah rubah baik hati, rubah penjaga dan penyampai pesan kepada sang Dewa.
Di kebanyakan kuil di Jepang deretan ema selalu menjadi pusat perhatian.Ema adalah papan doa dan harapan orang Jepang, umumnya mereka akan menuliskan harapan mereka pada papan-papan yang dapat dibeli seharga 500-1500 yen tergantung ukurannya. Mereka akan berdoa terlebih dulu, baru menggantungkan ema tersebut.
Tidak hanya orang Jepang, pengunjung dari negara lain pun bisa melakukannya. Saya melihat satu persatu ema yang tergantung, ternyata ada juga yang berbahasa Indonesia. Uniknya, bentuk ema tak hanya persegi, ada juga yang berbentuk rubah dan kepala kuda. l
Seribu Torii
Fushimini Inari juga dikenal karena banyaknya replika torii. Tersimpan dalam berbagai ukuran dan merupakan donasi para peziarah. Setelah melewati torii utama, gerbang romon dan bangunan kuil utama, serta berbagai bangunan, kita akan diarahkan ke belakang kuil menuju puncak gunung. Melalui jalan setapak yang menanjak kita akan dibawa hingga pintu gerbang torii atau disebut Senbon torii yang artinya gerbang ribuan torii.
Terdapat 2 buah gerbang yang membentuk koridor.
Panjang koridor mencapai 4 km, hanya ada beberapa pengunjung di dalam koridor yang sama dengan saya, suasana mendadak sepi suara burung gagak terdengar sesekali. Di setiap gerbang terdapat huruf-huruf kanji Jepang berupa nama si donatur dan tanggal disumbangkan. Tradisi mendonasikan Torii ini sudah ada sejak abad ke 17, jadi tidak mengherankan jumlahnya ribuan.
Sebenarnya untuk sampai ke puncak dan kembali lagi ke kaki gunung sekitar 2-3 jam. Tapi rasanya tak mungkin karena hari sudah gelap dan tidak ada penerangan di dalam lorong, namun saya terus melangkah. Memori saya kembali ke film yang sangat popular pada 2005, Memoirs Of Geisha. Pengambilan gambarnya di lorong panjang yang sedang saya susuri. Chiyo kecil berlari di antara torii, konon kabarnya menjadi bagian yang paling banyak memancing emosi penonton.
Beberapa saat saya tertegun, tidak ada siapa-siapa sekarang. Hanya suara burung gagak semakin riuh. Saya menoleh ke belakang, ada teman saya tengah berjalan. Seakan dapat membaca pikiran satu sama lain, kami pun kembali turun tanpa bersuara.
Tag :
Jepang

0 Komentar untuk "Wisata Jepang: Fushimini Inari Tasha “Kuil Dewa Padi”"
Komentar spam yang mengandung link aktif tidak akan ditampilkan.