Pulau Miossu: Sepenggal Catatan Sejarah di Distrik Sausapor

Sungguh tidak mengherankan ketika banyak orang yang rela merogoh begitu banyak uang untuk bisa menapakkan kaki mereka di Papua, paling tidak mengunjungi Provinsi Papua Barat, tempat saya dan tim saat itu berada.

Kami tidak berhenti berdecak kagum dengan keindahan alam kreasi sempurna Yang Maha Kuasa, meski kami harus bangun pukul 02.00 untuk berangkat menempuh 6 jam perjalanan menuju Sausapor. Dari tempat kami menyebrang menuju pulau tujuan dengan melewati jalan yang medannya cukup terjal, kelelahan seolah terbayar oleh eloknya pemandangan yang tersaji di hadapan kami.

Tim kami tiba pada Maret dan ketika itu musim utara sedang berlangsung, sehingga ombak masih cukup tinggi. Ini sebabnya kami memutuskan mengambil jalur darat hingga Sausapor. Saat menuju Sausapor, kami ditemani oleh dua warga asli Papua. Menurut pengemudi, kedua orang itu harus dibawa serta untuk berjaga-jaga jika ada orang yang menghentikan mobil di tengah jalan dengan maksud tidak baik.

Sumber gambar: Pexels/Pixabay

Benar saja, ketika itu sudah menjelang pagi dan kendaraan kami melewati wilayah yang jalannya sedikit sempit. Kami melihat jalan tersebut ditutup oleh palang yang dipasangi tulisan “Mobil 100.000”. Dua dari beberapa orang yang rebahan di tenda, yang dibangun di dekat palang tersebut, lantas berdiri menghampiri pengemudi. Mereka mencoba meminta uang untuk kawat—istilah lain untuk menyebut minuman keras.

Matahari jingga yang terbit di atas laut di antara kabut, awan, dan hutan, membuat pemandangan pagi di sekeliling kami menjadi cukup dramatis. Sesaat sebelum kami tiba di Sausapor, kami berhenti sejenak di sebuah sungai yang oleh masyarakat Papua disebut Kali Jodoh. Di akhir pekan, menurut kabar, banyak muda-mudi yang mandi atau bercengkerama di sungai itu. Konon, jika dua orang berlawanan jenis bertemu di sungai ini dan menikah, pernikahan mereka akan abadi.

Sekitar pukul 08.00, kami tiba di Sausapor, sebuah distrik terdekat sebelum Kampung Werur. Distrik itu merupakan salah satu alternatif titik tolak bagi mereka yang hendak pergi ke Pulau Miossu. Dengan menggunakan perahu kayu tempel 40 PK, kami menempuh 45 menit perjalanan. Penduduk setempat biasa menggunakan kole-kole atau perahu dayung dengan waktu tempuh yang lebih lama.

Kami menginjakkan kaki di pantai berpasir putih halus dengan air laut yang jernih. Di hadapan kami, terlihat beberapa warga lokal yang sedang duduk bercengkerama. Kebanyakan perempuan. Mereka menyambut kedatangan kami dengan cukup ramah.

Tidak jauh dari tempat mereka duduk terdapat sebuah rumah kayu sederhana yang dihuni oleh Miko Yapen, yakni penjaga pulau yang sehari-hari mengurus kelapa, kopra, dan cokelat. Mengingat waktu yang terbatas, kami pun meminta izin untuk berkeliling pulau dengan ditemani dua warga asli dari Pulau Miossu.

Kami melewati pepohonan kelapa, ketapang, pohon daun tikar, dan jenis tanaman gulma lainnya. Di samping itu, di Pulau Miossu ini tumbuh tanaman budi daya, antara lain pisang, manga, kelapa, cokelat, dan berbagai mancam tumbuhan pandan laut, bakung laut, serta waru laut.

Sejarah Pulau Miossu

Dalam bahasa Biak, secara harfiah Miossu berarti “pulau”. Terdapat lima marga yang masih merupakan famili yang bertanah kelahiran di pulau ini, yaitu Mirino, Yapen, Mambrasar, Mayor, dan Paraibabo. Saat ini, masyarakat dari kelima warga tersebut menetap di Kampung Werur dan Sausapor. Meski begitu, mereka kerap datang dan bermukim sementara di Pulau Miossu untuk sekadar bercocok tanam atau mengambil hasil laut.

Kepindahan pertama kali orang-orang dari Pulau Miossu diawali oleh marga Paraibabo, yang berlayar ke daratan besar dan membuka Kampung Werur. Kemudian diteruskan oleh pemerintah Belanda pada Perang Dunia II yang memerintahkan seluruh masyarakat di pulau pindah ke Sausapor.

Pulau Miossu terdiri atas dua buah pulau kecil, yang oleh warga setempat disebut Pulau Dua, yakni Pulau Mios Kasun dan Pulau Mios Beba. Penduduk sekitar menyebut kedua pulau itu dengan Mneuba atau Kampung Besar dan Mnukasun atau Kampung Kecil.

Pulau Miossu adalah pulau tempat Injil tiba pertama kali di Papua. Di Pulau Mios Kasun, terdapat peninggalan berupa reruntuhan fondasi bekas gereja, seperti besi tua yang sudah berkarat dengan berbentuk kotak seluas kurang dari 30 meter persegi.

Selain itu, terdapat sumur yang disebut-sebut dibangun oleh para misionaris sejak 1913. Sumur itu merupakan sumber air tawar di pulau tersebut. Hingga kini, sumur itu masih berfungsi dengan baik. Kami pun melihat beberapa makan milik masyarakat pendahulu dari lima marga.

Sedangkan di Pulau Mios Beba terdapat bekas pangkalan militer Amerika Serikat pada saat terjadi Perang Dunia. Tidak dapat dimungkiri bahwa lokasi pulau itu sebetulnya sangat strategis. Catatan sejarah ini seolah mengabarkan kepada kami bahwa suatu waktu pada masa lalu, pulau itu pernah ramai dan aktif.

Letak geografis

Koordinat 00° 20' 16" S dan 132° 09' 34" E
Titik Dasar (TD) No. 070
Titik Referensi (TR) No. 070

Akses Lokasi:

Pesawat
o Jakarta-Makassar dengan waktu tempuh + 2 jam 15 menit
o Makassar-Sorong dengan waktu tempuh + 2 jam

Pesawat Perintis/Kapal Pelni
o Melalui jalur laut dapat menggunakan Kapal Sunlia atau Avemaria dengan waktu tempuh 6-7 jam.
Mobil
Melalui jalur darat dari Sorong dapat menggunakan mobil double gardan menuju Sausapor dengan waktu tempuh 5-6 jam perjalanan.

Kapal Laut
Dari Sausapor, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Miossu dengan menggunakan perahu kayu tempel sewaan 40 PK selama 45 menit atau perahu dayung yang biasa disebut kole-kole.

Waktu terbaik berkunjung:

Pada Januari-Juni merupakan waktu yang tepat untuk menyambangi Pulau Miossu dan sekitarnya. Sebab, pada waktu tersebut, cuaca dan ombak relatif tenang dan bersahabat.

Kata mereka:

Lindert Rouw, Kepala Bidang Usaha Tambraw, Dinas Kelautan dan Perikanan

“Meski saat ini tidak terdapat aktivitas apa pun di Pulau Miossu, pada masa Perang Dunia II Pulau Miossu merupakan pulau yang aktif dan strategis. Itu terbukti karena pulau ini digunakan sebagai pangkalan militer Amerika Serikat. Pemerintah setempat sedang mengupayakan untuk menjadikan Pulau Miossu sebagai salah satu lokasi tujuan wisata.”

Infografis:
Luas : +/-  237, 73 Ha

Ikan karang

Terdapat 99 spesies ikan karang yang tergolong dalam 49 genera dan 23 famili. Terdapat juga potensi ikan hias di pulau ini. Di pesisir Pulau Miossu terdapat potensi makro batas yang dimanfaatkan masyarakat sekitar, seperti siput, karang, dan teripang.

Moluska

Beberapa jenis moluska yang dilindungi juga dapat ditemukan di perairan Miossu, seperti lola, kima besar, dan keong trompet.

Karang

Tutupan karang hidup di perairan Pulau Miossu berkisar 20-44.12%. Terdapat 17 jenis karang batu yang berada dalam 11 genus dan 9 famili. Hal itu menunjukkan variasi jenis karang di pulau ini tergolong rendah.

Infrastruktur

Di Pulau Miossu terdapat sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) atau disebut mercusuar. Ada dua mercusuar di pulau ini. Yang pertama, mercusuar lama peninggalan Perang Dunia II. Yang kedua, mercusuar yang baru baru rampung dibangun sekitar 2013. Selain itu, terdapat dermaga dan jalan beton.

Oseanografi

Perairan Pulau Miossu memiliki gradasi kedalaman sangat besar, mulai isobat 20 meter, ratusan meter, hingga membentuk slop (kemiringan 60°). Jenis pasang-surut di Pulau Miossu adalah pasang surut harian ganda. Pada saat angin barat dan utara, yang biasa terjadi pada Januari dan Februari, muncul gelombang yang cukup besar dan bisa mencapai ketinggan lebih dari 3 meter. Pada musim ini pula, empasan ombak yang besar akan menyebabkan terjadinya proses abrasi pantai.
0 Komentar untuk "Pulau Miossu: Sepenggal Catatan Sejarah di Distrik Sausapor"

Komentar spam yang mengandung link aktif tidak akan ditampilkan.

Back To Top