![]() |
| kosmtour.com |
Kubur batu itu mencapai tinggi 190 sentimeter dengan garis tengah 160 sentimeter dan sedalam 90 sentimeter itu menyapa pengunjung setelah melewati pintu masuk situs Megalitik Pokekea. Kubur baru yang juga disebut kalamba—dalam bahasa Lore, bahasa masyarakat lembah Besoa—mengandung arti perahu arwah.
Kalamba berbentuk drum atau tong dari bahan dasar batu. Bedanya, di zaman modern, kalamba mirip dengan tempayan yang berguna untuk menampung air. Menariknya, rupa-rupa wajah manusia yang tergurat di mulut kalamba tersebut terlihat menunduk khidmat seperti sedang memberi salam.
Kalamba yang paling tinggi tersebut tidak sendirian, tetapi juga didampingi kalamba lainnya yang bentuknya lebih pendek. Kalamba lain cenderung terletak di bagian timur atau sekitar 75 meter dari pintu pengunjung masuk. Di tempati inilah, kalamba dengan pelbagai ukuran berada, dari 50 sentimeter sampai 1,5 meter.
Situs Pokekea yang terletak di Desa Hangira, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, tersebut terdiri atas 27 kalamba dengan 113 artefak pubakala dan sisanya adalah arca berbentuk wajah manusia serta lempengan batu. Situs tiu adalah satu dari sebanyak 50-an tempat peninggalan budaya megalitikum di lembah Besoa, Lembah Bada, Lembah Poso, dan Lembah Napu. Totalnya terdapat 300-an artefak megalitikum di 40 situs yang ada di Kecamatan Lore Tengah yang tersebar di Desa Rompo, Katu, Torire, Doda, Bariri, Lempe, dan Hangira.
![]() |
| pojokpalu.wordpress.com |
Istilah megalitikum itu bermula dari bahasa Yunani yang mengandung arti batu besar. Di zaman tersebut, manusia memproduksi artefak-artefak yang berbahan dasar batu, yang berguna sebagai perlengkapan untuk bercocok tanam sekaligus untuk aktivitas ritual seperti penyembahan dan penguburan.
Di Tanah Air, di samping Poso, peninggalan megalitikum dapat ditemukan di Sumatra, seperti di Pasemah (Sumatra Selatan), Balige (Sumatra Utara), lalu di Jawa seperti Lebak Sibenduk (Banten) sampai NTT, seperti di Sumba. Pada umumnya, terdapat dua tipe kalamba yang didasarkan atas jenis ukiran di sisi luar. Pertama, kalamba yang bermotif kebanyakan bertubuh tinggi dengan ukiran wajah manusia yang dilengkapi dengan mata, hidung, dan alur alis. Di samping guratan wajah manusia, di kalamba juga terdapat garis timbul keliling.
Sementara itu, kalamba yang lain berukurang relatif cenderung lebih pendek tanpa mempunya motif. Dinding kalambanya juga tak dihiasi ukiran. Sunardi Pokiro, juru pelihara situs Pokekea, mengatakan kalamba kira-kira mempunyai dua fungsi. Pertama, untuk kuburan dan kedua untuk tempat penyimpanan tulang.
Sunardi mengatakan, berdasarkan hasil penelitian, temuan tengkorak dan gigi tidak hanya berjumlah satu, tetapi tersebar banyak di berbagai tempat. Amat mungkin, berdasarkan legenda yang terekam di benak masyarakat Lore, disebutkan bahwa kalamba digunakan sebagai ruang penyimpanan ari mandi untuk putri-putri bangsawan. Terkait dengan hal demikian, kalamba berbentuk polos yang dipakai.
Berjarak sekitar 10 kilometer dari Situs Pokekea, Situs Tadulako yang berlokasi di Desa Dosa, tergeletak patung yang berukir wajah manusia dengan arah pandang ke matahari yang terbenam. Peninggalan purbakala ini juga terletak di hamparan padang. Bahkan masyarakat sekitar juga mempercayai patung tersebut adalah perwujudan dari panglima perang di era sebelum Masehi yang dianggap sebagai tadulako—bahasa Kaili yang berarti pemimpin.
Aminadab Soro, tokoh adat setempat di Desa Doda, menyebutkan arca berukir wajah manusia diduga merupakan representasi makhluk yang dikultus manusia pada zaman tersebut. Ukiran wajah manusia yang terdapat di arca-arca di situs-situs megalitikum itu satu sama lain memiliki kemiripan, seperti bentuk mata, alis, dan hidung. Tiga unsur ini kerap ada.
![]() |
| tempo.co |
Uniknya, benda-benda megalitik itu memiliki karakter yang serupa, yakni bertekstur halus dan ukiran yang amat rapi. Itulah sebabnya, permukaan patung dan kalamba rata. Jika dilihat dengan saksama, tidak ada kesalahan pahat atau ukiran yang belum selesai. Intinya, ukiran pada dinding kalamba atau arca amat merepresentasikan rupa manusia.
Aminadab mengatakan bahwa artefak-artefak megalitik itu menunjukkan betapa tingginya peradaban manusia di Lembah Besoa. Ia juga mengakui benda-benda purbakala itu yang sangat indah itu tentu diproduksi dengan teknik berpikir dan keterampilan canggih.
Keindahan benda-benda purbakala ini akhirnya membuat masyarakat sekitar sadar untuk menjaganya. Memang, sebelum adanya penelitian di situs-situs megalitik di Sulawesi Tengah pada era 1980-an, warga sekitar tidak terlalu peduli pada artefak-artefak kebudayaan masa lampau itu.
Di Lembah Besoa, situs megalitik bukan sesuatu yang lampau dan untuk dilupakan, melainkan untuk dilestarikan . Pasalnya, di situs-situs tersebut tegak dengan megah peradaban lampau manusia yang tak lekang oleh waktu. (disadur dari Kompas cetak)
Tag :
Destinasi,
Sulawesi Tengah



0 Komentar untuk "Peradaban Canggih di Lembah Besoa"
Komentar spam yang mengandung link aktif tidak akan ditampilkan.